Langit tak cerah seperti biasanya,
Menangis, menahan duka yang sekian lama tersembunyi,
Begitu deras tangisannya hingga bumi tak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya.
Bumi pasrah atas apa yang akan terjadi.
Air yang dulu menjadi teman bermain, kini terlihat seperti musuh,
menghantam tempat yang dulu penuh gelak tawa,
Menerkam semua yang ada di depannya,
Menenggelamkan rumah yang dulu disiraminya,
Merenggut semuanya tanpa belas kasihan…
Begitu sakitkah luka yang ditorehkan wahai air…
Lihatlah air…
Berapa korban yang telah kau ambil nyawanya,
Berapa manusia yang kehilangan anggota keluarganya,
Berapa manusia yang kehilangan tempat tinggal satu-satunya,
Berapa jiwa yang kecewa dengan kejutan yang kau berikan.
Lihatlah…
Lumpur yang menutupi jalanan itu.
Barang-barang berserakan di mana-mana,
Tiang listrik yang sudah rebah,
Pohon-pohon yang sudah tumbang,
Bangunan-bangunan yang kini tak utuh lagi.
Tak sanggup mata ini melihatnya air…
Luka yang kau bawa begitu melekat.
Di balik bencana yang kau bawa air…
Ada jiwa-jiwa yang siap membangun kembali tempat tinggal mereka,
Yang berusaha menutupi jejak luka yang tertinggal,
Dengan penuh semangat mereka bekerja sama, mengembalikan rumah mereka seperti semula.
Mengesampingkan rasa lelah, tangis, dan duka,
Demi memulai hidup baru.
Air…
Bencanamu bukan sekedar memberi luka namun juga
Sebagai peringatan.
Mungkin ini tak akan terjadi
Jika selokan tak tersumbat, sungai tak banyak sampah,
dan jika manusia menjaga apa yang telah Tuhan berikan.
Sebab alam tak pernah salah,
Ia hanya membalas apa yang diterimanya.
Jika terus abai, tak peduli, bukan tak mungkin bencana ini akan terjadi.
Maka belajarlah dari luka ini,
Rawat bumi kita, cintai lingkungan kita,
Sebelum semuanya benar-benar terlambat.
(Sulastri, mahasiswi Prodi Perbandingan Mazhab UIN STS Jambi)