Perkuat Kapasitas Pengelolaan Program: Kolaborator BASIS se-Sumatera Ikuti Workshop Penyusunan Proposal Hibah Metode RBM
Dalam rangka penguatan kapasitas kolaborator program Building Enabling Environment and Strong Civil Society in Indonesia (BASIS), YAPPIKA, dan SEPAHAM Indonesia melaksanakan kegiatan Workshop Penyusunan Proposal Hibah dengan Metode Results-Based Management (RBM). Workshop yang dilaksanakan selama tiga hari (25-27 Juli 2026) ini bertempat di El Hotel Bandung dan diikuti oleh 20-an orang peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk lima orang kolaborator dan project officer (PO) BASIS se-Sumatera yang berasal dari UIN Ar-Raniry Aceh, Universitas Negeri Medan, Universitas Andalas, UIN STS Jambi, dan Universitas Bengkulu. Dari UIN STS Jambi, hadir kolaborator program yang juga merupakan Koordinator Pusat Lingkungan Hidup dan SDGs (PLHSDGs), Irma Sagala. “Kegiatan workshop ini sangat penting untuk mendukung tujuan program BASIS. Perlu dicatat bahwa program BASIS ini sejatinya mendukung tujuan SDG 5 Kesetaraan Gender, SDG 16 Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan”, ujar Irma Sagala.
Workshop dipandu langsung oleh tim YAPPIKA yang membahas teknik penyusunan proposal, mulai dari analisis masalah hingga rencana pengelolaan program. Meski muatan pembahasan cukup berat, peserta dapat mengikuti workshop dengan riang gembira karena pembelajaran dilaksanakan secara sangat interaktif. “Riang gembira” itu bermakna suasana kelas penuh tawa dan wajah semringah serta semangat dalam mengerjakan tugas. Canda dan sentilan antarregion turut memeriahkan suasana, dan tentunya Sumatera adalah region yang selalu membara. Bagi para kolaborator yang semuanya berprofesi dosen, workshop model interaktif seperti ini sekaligus menjadi ajang penyegaran pikiran dari sesaknya rutinitas dan tumpukan tugas kampus. Apalagi, interaksi dalam komunitas YAPPIKA-SEPAHAM Indonesia ini dibangun dalam nuansa egaliter, jadi semua berasa muda dan tidak disekat oleh perbedaan umur.


Sebagai tema praktik, peserta region Sumatra mengangkat isu “Kebebasan Mimbar Akademik” yang belakangan ini terpapar di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia. Hasil riset yang diselenggarakan oleh V-Dem menunjukkan bahwa Indeks Kebebasan Akademik di Indonesia menurun 56% sepanjang tahun 2015-2025, sehingga menjadikan Indonesia masuk dalam daftar 15 negara terburuk di dunia. Kenapa Indeks Kebebasan Akademik di Indonesia menurun jauh? Apa akar masalahnya? Apa dampaknya? Apa program yang dapat dilakukan untuk mengatasinya? Para kolaborator BASIS se-Sumatera siap menyusun proposal untuk tema ini. Pertanyaannya, lembaga donor mana yang akan dituju? Ini tantangan lain: semoga ada. “Tugas awak barusaho, hasil awak usahokan juo”, begitu kira-kira petuah yang terpancar dari aura foto PO BASIS Sumatera, seorang aktivis asli Minangkabau, Datuak Charles Simabura. Artinya: Sumatera Pantang Menyerah…! (IS)